Kulirik jam yang melingkar di tangan 9.30 wib, janji dengan
klien, seorang pimpinan di sebuah lembaga. Wah bisa telat nih, pikirku.
Dengan kecepatan tinggil, kularikan kendaraan ke arah timur. Uupss,
macet, suara lengkingan klakson dan asap kendaraan beterbangan membentuk
lingkaran meliuk membuat para pengendara terbatuk dan menggerutu dengan
bahasa masing-masing, mungkin bagi sebagian orang hal tersebut sesuatu
yang menjengkelkan tapi bagiku itu sebuah sonata yang indah, ya
kebisingan dan kemacetan di jalan raya puluhan bahkan mungkin ratusan
kendaraan berjejal memenuhi badan jalan yang tidak seberapa lebar.
Mataku menatap lurus pada lajur kendaraan yang serupa ular memanjang dan
aku seperti sisik di sebelah dalam terasa pengap dan berat.Bulir peluh
perlahan menetes menahan rasa panas yang menyengat.
Tepat
jam 10, tiba di lokasi. Senyum security membuat pikiran agak tenang.
Setelah basa-basi, aku menuju ruangan beliau (pimpinan lembaga). Ketukan
halus pada daun pintu. Terdengar suara sepatu beradu dengan lantai
menuju ke arahku. Sreett, dan pintu terbuka, sesosok PENDEKAR (Pendek
Kekar) tersenyum.
"Oohh, Mas yang tadi nelpon ya. Ma'af mas, saya
lagi ada jadual sampai jam 12. Gimana, mau nunggu atau besok kesini
lagi?" Ujarnya tanpa jeda.
Aku terdiam sejenak, "Saya tunggu saja pak", jawabku tersenyum lega.
Setelah
itu beliau mempersilahkan aku duduk. Hemm, ruangan yang lumayan sejuk.
Dindingnya berhiaskan beberapa lukisan yang menarik perhatianku dan satu
pot palem di sudut ruangan ikut meramaikan ruangan tersebut. Selera
tinggi terlihat dari lukisan yang terpampang begitu artistik. Selama
menunggu, apa yang aku lakukan? Fikiranku mulai fokus menyusun
kalimat-kalimat yang akan kusampaikan kepada beliau. Tak lama kemudian
hape berdering, terdengar nada panggil, KITARO, musik kesukaanku.
Sekilas kulirik layar hape, partner, apalagi nih pikirku. Ternyata cuma
mau nanyain, "Dimana? Posisi?". Weleeehh..ckckck..
Akhirnya
setelah dua jam aku menunggu dengan perasaan gelisah, beliau masuk ke
ruangan. Sembari tersenyum, lagi-lagi ia berucap, "Ma'af mas,
ngerepotin, menunggu saya". Aku tersenyum, duuh, nih bapak baik amat ya.
Jarang-jarang lho ada pimpinan seperti itu, heuheu..
Tidak
seperti dugaanku, ternyata beliau sangat familiar, dan terjalinlah
percakapan yang hangat, ngobrol ngalor ngidul, lalu kuutarakan tujuan
kenapa aku menemui beliau. Jawabannya sangat menyenangkan, beliaupun
langsung memanggil para wakilnya minta pendapat. Ternyata setali tiga
uang, klop daahh..
Jam 01.00 wib tak terasa waktu
berjalan, kemudian aku pamit, tak lupa berjabat tangan. Sembari berjalan
menuju parkiran, aku sempatkan bertanya,
"Pak, boleh nanya!"
"Silahkan, silahkan mas, mau nanya apa"
"Ma'af pak sebelumnya, tadi saya mengamati bapak sepertinya ada sesuatu yang bapak kuasai?"
"Maksudnya mas?"
"Aura bapak lain dari yang lain, dibanding dengan wakil-wakil bapak tadi"
"Ooo itu, biasa aja koq mas. Yang penting PAJERO aja" ujar beliau terbahak-bahak tanpa mengurangi kharismanya.
"Pajero"?
"Iya, Panas jobo jero"
Akupun
ikut tertawa, ada-ada saja bapak nih, pikirku. Lalu aku ucapkan terima
kasih. Diiringi senyum khas beliau. Kulangkahkan kaki menuju parkiran.
Belum sempat aku menyalakan kendaraan, tiba-tiba ada sms masuk. Ternyata
dari beliau, isi smsnya,
"Mas, PAJERO itu adalah Pikiran
Apik Jembar Omahe" (Pikiran baik jiwapun lapang). Jangan pernah berfikir
negatif terhadap sesuatu maka jiwamu akan lapang dan Insya Allah baik
rumah dunia maupun rumah akherat juga akan lapang/luas"
Aku termenung sesaat, kulirik ke arah jendela ruangan beliau. Lalu aku berucap lirih, "Terima kasih banyak pak"
Pelajaran
yang kupetik hari itu sangat-sangat berharga, padahal baru kenal dan
baru pertama kali bertatap muka. Ya, kita manusia terkadang tak
menyadari bahwa pikiran negatif akan mempengaruhi jiwa, imbasnya bisa
kemana-mana.
Semarang, 3 Agustus 2012
*hanya sekedar catatan ringan*